header-int

Muansin, Alumni Prodi PAI yang Menjadi Kepala Desa

Rabu, 11 Nov 2020, 10:37:00 WIB - 363 View
Share
Muansin, Alumni Prodi PAI yang Menjadi Kepala Desa

 

“Apapun boleh terjadi dalam hidup kita, kecuali satu: putus asa.” Itulah motto hidup Muansin, alumni Prodi PAI FTIK IAIN Jember tahun baru2005. Pria kelahiran Banyuwangi 14 Februari 1981 mengaku tidak memiliki kata menyerah dan putus asa di dalam kamus hidupnya. 
“Segala sesuatu itu selalu mungkin selagi kita terus berusaha. Ikhtiar itu kan perintah Allah. Al-Qur’an mengajarkan bahwa ‘Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri’ (QS. Ar-Ra’d: 11, red.). Putus asa adalah sikap yang di larangan Allah.  Laa taqnathuu min rohmatillaah. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah (QS. Az-Zumar: 53, red.), ungkapnya sambil tersenyum.  
Hamsin, demikian panggilan akrabnya, lahir dari keluarga sederhana di Desa Sidowangi di mana tingkat pendidikan warganya kala itu masih rendah. “Saat itu, sebagian besar orang tua di sini hanya menyekelohkan anaknya di tingkat SD. Sangat jarang yang lulus SMP apalagi SMA,” tuturnya.
Dia mengaku beruntung karena orang tuanya mengharuskan untuk terus sekolah. Makanya, setelah tamat SDN I Sidodadi tahun 1994, dia melanjutkan ke MTs Darul Huda (lulus 1997) dan MA Darul Huda (lulus 2000), dua madrasah yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Abror Alasbuluh, Wongsorejo, Banyuwangi. Di pesantren inilah dia menimba ilmu agama selama enam tahun (1994-2000).
Tidak puas dengan itu, Hamsin melanjutkan ke STAIN Jember (sekarang IAIN Jember) dengan memilih Prodi PAI. Selama di kampus dia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Puncaknya, dia menjadi Ketua Cabang PMII Jember tahun 2004.
Setelah meraih gelar S.Pd.I. tahun 2005, Hamsin tidak memilih profesi guru sebagaimana ijazahnya. Dia justru tertarik pada dunia jurnalistik. Hamsin menjadi wartawan VIS FM Banyuwangi, hingga diangkat sebagai Newa Manager radio itu tahun 2008-2010. Pada tahun 2008, dia juga Ketua Aliansi Wartawan Radio (Alwari) Cabang Banyuwangi.
Pada tahun 2011, Hamsin didaulat sebagai Pimpinan Redaksi Suara Parlemen, Koran DPRD Banyuwangi, serta menjadi Manajer Lembaga Penyiaran Publik Radio Blambangan Banyuwangi tahun 2012. Selanjutnya, dia terlibat sebagai Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Banyuwangi tahun 2014-2018. 
Salah satu yang menarik dari suami Siti Musyayanah ini adalah ketertarikannya pada dunia politik. Dia mengaku tertarik pada dunia politik sejak SMA.
“Sejak di bangku SMA saya sudah ikut dan hadir dalam kegiatan kampanye partai politik. Lalu pada saat kuliah saya terus belajar banyak dunia politik, mulai dari literatur ilmu politik hingga kegiatan-kegiatan politik di kampus, daerah, dan nasional. Setelah lulus kuliah, kegiatan sosial menjadi ruang baru yang menarik saya geluti, dan dunia politik sepertinya memiliki magnet tersendiri buat saya, sehingga saya putuskan untuk mengabdi dan berjuang di dunia politik,” kisahnya dengan serius.
Ayah Hazza Priananda Fardad, M. Kenzie Wibowo, dan Shakila Labiba Imani ini memiliki alasan mengapa tertarik pada dunia politik praktis. Menurutnya, “Dengan berpolitik praktis, kita akan banyak bertemu dengan beragam orang atau kelompok. Dengan politik praktis maka akan membuka ruang pengabdian yang lebih luas. Dengan politik praktis maka kita bisa membuat kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.”
Hamsin mengaku bahwa jalan yang dilalui dalam politik tidaklah mulus. “Pada pemilu tahun 2009, saya terjun langsung sebagai calon legislatif (DPRD Kabupaten Banyuwangi, red). Di awal perjuangan politik ini saya belum beruntung karena tidak berhasil meraih salah satu kursi di DPRD,” ujarnya. 
“Lalu pada tahun 2013, saya maju sebagai calon Kepala Desa Sidowangi, dan kalah dengan selisih 28 suara dengan pemenang Pilkades waktu itu.  Kemudian tahun 2019, saya mencari peruntungan lagi di Pileg dan menjadi calon anggota DPRD Banyuwangi melalui Partai Gerindra. Dan untuk kedua kalinya, saya kembali gagal melaju ke gedung parlemen,” lanjutnya. 
Pantang menyerah dan pantang putus asa, setelah gagal menjadi anggota DPRD, dia memutuskan untuk bertarung dalam Pilkades. “Saya kemudian kembali mendaftarkan diri sebagai calon Kepala Desa Sidowangi, tepatnya bulan September 2019. Dan alhamdulullah, pada perhelatan Pilkades kali ini, saya terpilih sebagai Kepala Desa Sidowangi,” ungkapnya.
Uniknya, sekitar dua pekan setelah dilantik sebagai Kepala Kepala Desa Sidowangi, Hamsin dipilih menjadi Sekjen Asosiasi Kepala Desa Banyuwangi (ASKAB) tahun 2020-sekarang. “Inilah takdir Tuhan,” katanya sambil tertawa ringan.
Belajar dari pengalaman dirinya, Bendahara Lakpesdam PCNU Banyuwangi ini berpesan kepada alumni yang tertarik pada dunia politik agar jangan tanggung dalam menempuh jalur ini. “Jika sudah memilih untuk terjun ke dunia politik, jangan pernah nanggung, atau jangan pernah sama sekali,” tegasnya.
“Bagi adik-adik mahasiswa, selama berproses, jangan terlena dengan kemapanan. Teruslah asah kemampuan dan keterampilan. Tantangan di depan sudah menunggu kalian, sahabat-sahabat," pungkasnya. (Hatta)

Unidha Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
Sebagai Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri terkemuka di wilayah tapalkuda, IAIN Jember terus berbenah untuk menjadi Universitas Islam Negeri pertama di wilayah tapalkuda. Berbagai sarana dan prasana pendidikan , Mahad dan Gedung Dosen yang megah telah telah di resmikan oleh Menteri Agama RI di awal tahun 2017
© 2021 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER Follow INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER : Facebook Twitter Linked Youtube